Instagram Posts

Sunday, November 12, 2017

[REVIEW] (im)Perfect Serenade by Irene Dyah

November 12, 2017 0 Comments
[BOOK INFO] 
Judul: (im)Perfect Serenade
Pengarang: Irene Dyah
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Genre: Chicklit
Halaman: 248
Periode baca: 5-9 Nov 2017
Ratings: 🌟🌟🌟🌟
[BLURB]
Setiap perjalanan pasti butuh kata pulang, dan pulang bagimu saat ini adalah kepadaku, kepada yang kita bangun bersama enam tahun terakhir.


Kalimat itu barangkali menggetarkan hati sebagian orang. Namun bagi Seren, permohonan romantis dari suaminya terdengar seperti lelucon di siang bolong. Bagaimana tidak? Dia sedang menikmati masa terbaiknya bekerja di Juliet Club dan tinggal di kota secantik Verona! Ditambah bonus tampan nan sulit ditolak bernama Aris Zanetti, pria idaman berkualitas 4B (bibit, bebet, bobot, bule) yang masih terlihat macho meski tengah menggenggam pink gelato.


Lagi pula, bukankah suaminya pun sedang bersenang-senang bersama si Kuku Merah? Mau hancur ya hancur saja sekalian. 

Tapi, apa kata dunia nanti, bila seorang ikon wanita bercitra kisah cinta sempurna seperti Serenade Sukma, terbukti gagal membina rumah tangga? Bisa kiamat dunianya.

Apakah kencan nakal serta pesona tanah Sabang bisa membantu menyelesaikan perkara? Bisakah Seren mencantumkan happy ending laiknya “Romeo-Juliet” versi Pakistan? Atau jangan-jangan, kisah cintanya berakhir tragis seperti legenda Romeo-Juliet di Verona?

[REVIEW]
Pertama-tama, aku berkenalan dengan Serenade, yang akrab dipanggil Seren. Saat ini dia bekerja di Juliet Club, sebuah klub unik yang ada di Verona. Tugasnya mudah, membalas surat-surat yang ditujukan kepada Juliet, sang tokoh legendaris kekasihnya Romeo. Ayo, ngaku, siapa nggak tahu tentang kisah cinta mereka yang berakhir tragis (menurutku bukan tragis tapi bodoh, hehehe!)!

Nah, ternyata kepergian Seren ke Verona juga menjadi salah satu getaway dia dalam hal pekerjaan. Dia pergi ke Verona juga supaya bisa menemukan ide-ide baru untuk novelnya yang mandek. Namun, masih ada masalah pelik lain yang sedang dia hadapi, yaitu Bansar yang ternyata punya wanita lain selain Seren sebagai istrinya. Walaupun tahu, Seren tidak membahasnya dengan Bansar. Dia tidak mau merusak rumah tangganya dengan Bansar. Hei, Seren, nggak usah dirusak pun, itu udah rusak dengan kehadiran orang ketiga!


Dalam hari-harinya di Verona, seorang lelaki Italia bernama Aris Zanetti mengisi hari-harinya. Dia selalu tampak percaya diri dengan moto hidup: "Italians do it better!"


"Setiap perjalanan pasti butuh kata pulang. Dan pulang bagimu, di dunia ini, adalah kembali kepadaku. Kepada rumah kita, dan semua yang kita bangun enam tahun terakhir." (hal 132)

Pertemanan yang terjadi antara Seren dan Aris sedikit melewati batas. Jujur saja, aku kaget Seren bisa terbawa suasana. Walaupun dia terluka karena perselingkuhan suaminya, tapi menurutku dia kurang memegang kendalinya ketika dihadapkan pada sosok bagai pahatan dewa. Untungnya, Seren diingatkan akan sesuatu yang dia lihat di apartemen Aris ketika Aris mengundangnya makan malam. Sesuatu yang menghentikannya berbuat lebih jauh, sesuatu yang sedikit banyak membuatku memahami Aris. Maksudku, well, he's a foreigner with all his cultures and norms. You just can't blame him for that.


Seren izin pulang setelah bermenit-menit tidak nyaman bersama Aris malam itu. Dan dia lebih kaget lagi menemukan Bansar sudah ada di dalam kamar hotelnya. Ya, Bansar yang harusnya menikmati kesendirian dengan selingkuhannya itu di Jakarta, memilih untuk terbang ke Verona dan mengajak Seren pulang ke Indonesia. 


"Kamu sadar nggak sih, buat lelaki, meminta maaf itu benar-benar sesuatu yang membanting ego dan menginjak-injaknya dengan kakinya sendiri. Dan kalau Bansar melakukan selalu bisa melakukannya, sebesar itu pula rasa sayangnya kepadamu." (hal 207)

Aku mulai sedikit simpati pada sosok Bansar. Dia memang bukan lelaki yang memohon-mohon untuk diampuni karena kesalahannya dekat dengan Ayang, tapi itu juga bukan 100% kesalahannya. Lelaki itu benar-benar berusaha memegang janji setianya dengan Seren.


Serupa pula dengan yang Mbak Emma--atasan Seren--bahwa Bansar adalah lelaki yang telah memberikan janji sucinya pada Seren, bukan Aris--lelaki Italia--yang dengan sejuta pesona memikat wanita mana pun yang cantik di matanya. Ya, memang Aris yang sanggup bersikap romantis padanya, memperlakukan Seren dengan amat manis seolah dialah yang paling beruntung di dunia ini. Namun, sejatilah Bansar yang menyusulnya ke Verona dan menjemputnya pulang.


Meski sudah meminta maaf atas kesalahannya, Seren tetap saja meminta waktu untuk memaafkan Bansar. Tapi Seren mungkin lupa, bahwa yang pernah dilakukannya dengan Aris pun, adalah hal serupa seperti yang dilakukan Bansar dengan Ayang.


Apakah kedua manusia ini akhirnya bisa saling memaafkan dan memurnikan janji setia mereka lagi? Itu jawaban satu itu, aku harus meminta kalian baca bukunya. 


[CLOSING]
Ini pertama kalinya aku baca karya Mbak Irene Dyah. Kesan pertama, tidak mengecewakan. Ya, iyalah, Mbak Irene udah malang melintang di dunia novel Indonesia, aku saja yang terlambat berkenalan.

Kisah ini secara pribadi menggugah hatiku. Tentang perjalanan seorang wanita yang suaminya selingkuh. Namun, di samping itu, ternyata Seren juga hampir melakukan hal yang sama. Menurutku, itu harusnya membuat dia lebih mudah untuk memaafkan Bansar, suaminya. Tetapi, tidak. Justru dia begitu sulit melepas kesalahan Bansar. Inilah keegoisan seorang wanita. Dia disakiti, tapi ketika dia menyakiti dia tidak sadar karena terlalu dicintai oleh Bansar.

Sayang sekali tidak ada momen Bansar tahu perihal Aris dan hubungannya dengan Seren di Verona. Aku hanya penasaran dengan reaksi Bansar. Ya, aku tahu di dalam kisahnya tersirat bahwa Aris bermaksud baik dan Bansar selalu memaafkan atau bahkan akan meminta maaf pada Seren karena hal itu. Tetapi tetap saja, bagian itu mengganjal di hatiku.

Aku suka karakter Mbak Emma dalam kisah ini. Dia adalah atasan Seren, yang sekaligus menjadi orang yang bisa melihat permasalahan yang dialami Seren dengan mata yang lebih netral. Beberapa ucapannya pada Seren benar-benar menohok hati dan sanggup menyadarkan Seren.

Buku ini adalah curahan hati beberapa perempuan yangmengejar kisah hidupnya dengan cara yang berbeda. Buku ini mengajarkan bahwa ada bahagia untuk setiap wanita, kita tinggal mengejarnya. Sudahkah kamu mencapai bahagiamu sendiri? Kalau belum, coba deh baca buku ini, rasa bahagia di hatimu akan meningkat begitu kamu selesai membacanya!

[REVIEW] Someday I Choose You by Wiwi Suyanti

November 12, 2017 0 Comments
[BOOK INFO] 
Judul: Someday I Choose You
Pengarang: Wiwi Suyanti
Penerbit: Kubus Media Group
Genre: Romance
Halaman:360
Periode baca: 6-8 Nov 2017
Ratings: 🌟🌟🌟🌟
[BLURB]
Seharusnya dari awal Ralf menolak ide sinting William, adiknya yang sakit keras itu untuk membantu istrinya mendapatkan keturunan. Ini gila. Benar-benar gila. Lebih gila lagi karena saat segalanya sudah terlambat, Ralf justru jatuh cinta bukan kepayang pada Samantha, istri dari sang adik.

Apa yang kelihatan di luar sama sekali berbeda dengan apa yang ia rasakan di dalam. Andai saja ia mengenal Samantha jauh lebih cepat dari adiknya. Andai saja hidup ini tidak terlambat sembilan tahun untuk membawa dirinya pada Sam.

[REVIEW]
Buku kedua ini diawali dengan rencana Ralf untuk pulang ke Bali, meninggalkan apa yang perlu ditinggalkan di Jakarta. Perpisahan mereka sungguh pedih meskipun keduanya sama-sama tahu bahwa perpisahanlah ujung kisah mereka. Ya ampun, Ralf, betapa beratnya beban hidup kamu, Ganteng!
Lambat laun, Liam akhirnya mengetahui apa yang selama ini coba disembunyikan oleh Sam. Dia merasa Sam berubah. Namun, kalau Liam ingat, Sam sendiri sudah mengatakannya di awal sebelum dia menyanggupi permintaan gila Liam, bahwa dia mungkin saja akan membenci Liam setelah ini semua.


Dan, Tuhan, tolong ya, nggak cuma Ralf, Benji, dan Emma yang pengen membabakbelurkan Liam, aku sudah ingin menenggelamkannya ke laut dari awal buku pertama. Dan pada bagian ini, perasaanku pada Liam tidak bisa diubah lagi. I hate him so so so much! Rasanya pengen aku cakar-cakar sampe berdarah, lalu lempar ke tengah laut biar dimakan sama ikan hiu. Bye bye, Liam!


I spend a whole day hating Liam and being sensitive whenever somebody mention his name. Itu karena aku benar-benar nggak suka bagaimana Liam menghancurkan bayanganku tentang dia. Kupikir tingkahnya yang berubah itu hanya bentuk penyesalan. Tapi, nggak lho! Dia emang aslinya begitu. Ya Tuhan, selamatkan aku dari kebencian kepada tokoh fiksi 😂

Setelah Ralf pergi, sikap Liam pada Sam berubah. Dia menganggap istrinya itu adalah barang bekas yang bisa dia perlakukan sesukanya. Liam, sadar dong, yang memulai itu semua adalah kamu!

Namun, bukan Liam namanya kalau tidak dibanjiri oleh rasa percaya diri dan pandangan orang lain terhadap dirinya. Dia merasa semua orang akan membelanya. Sayang sekali, Liam, semua orang sebenarnya tidak menyukai kamu! Eat that, man!


Kebaikan hati memang akan selalu kembali kepada orang yang menebarkannya. Kebaikan yang kita berikan kepada orang lain, meskipun sepele, kita tidak pernah tahu efeknya pada orang lain. Itulah karma sesungguhnya dalam hidup Ralf. Karma baik.

Selama pengasingannya ke Bali, Ralf mencoba berdamai dengan keadaan. Berharap Sam kembali hidup bahagia bersama Liam. Namun, bukan itu yang terjadi. Selama Ralf tersiksa menahan perasaannya sendiri, Sam pun juga tersiksa, bahkan dia juga tersiksa secara lahir tanpa Ralf karena ulah Liam.


Rasa sakit itu bahkan bertambah ketika Sam mendapati dirinya hamil. Tentu saja, hamil anak Ralf. Menghadapi Liam yang keluar dari kedok baiknya ditambah dengan kehamilan usia muda membuat Sam pulang ke rumah orang tuanya.


Dan mulai dari sanalah, karma baik yang ditanam bertahun-tahun oleh Ralf mulai menuai hasilnya. Semua dijembatani oleh sang perantara bernama Sebastian. Kawan sekolah mereka dulu yang hanya ingin membalas budi pada Ralf karena tindakannya yang menyelamatkan Sebastian dari bunuh diri. Melalui Sebastian, kisah cinta Ralf dan Sam menemukan celah untuk kembali merekah.


Berhasilkah mereka menembus ambisi Liam yang selalu menang? Sanggupkah kelembutan hati Samantha akhirnya luluh dan kembali pada janji setianya? Ataukah Ralf yang menyerah karena rasa sayangnya sebagai kakak pada Liam? Well, kalian bisa temukan sendiri jawabannya saat kalian membaca bukunya. Aku hanya pesan, jangan benci Liam terlalu dalam, kamu bisa menangis saking keselnya!  


[CLOSING]
Harus aku akui, buku kedua ini benar-benar membuat aku emosi. Aku nggak pernah membenci tokoh fiksi mana pun selain di cerita ini. Yes, I hate Liam. Di buku pertama, dia masih kelihatan manusiawi dengan keinginan anehnya itu. Namun, di buku kedua, dia berubah jadi monster mengerikan dan menyakiti semua orang yang menyayanginya. Mulutnya itu pengen aku robek-robek! Salut buat kak @wiwisuyanti yang bisa menulis sedemikian mantapnya!

Aku udah sangat jarang menangis saat membaca buku karena berusaha untuk nggak baper. Kalau aku baper, nanti lanjutnya lagi lama. Kejadian berbeda terjadi pada cerita ini. Makin baper, makin mewek, makin aku terusin seolah aku mencari kapan matahari terbit lagi dan menyinarkan kebahagiaan.


Di bagian akhir, entah kenapa aku merasa speed-nya agak cepat. Bisa jadi karena perasaan 'I want more' dan nggak ingin berpisah dari cerita ini.


Aku suka karakter Sam, dia bukan sekedar wanita lemah lembut dan setia. Tapi dia juga bisa menjaga dirinya sendiri dan mengambil keputusan yang benar. Di awal-awal, aku sempat mikir Sam ini plin plan, tapi dia benar-benar memikirkan perasaan orang lain sebelum mengambil keputusan. Good woman, Sam!


Untuk Ralf, ah, aku mah nggak bahas panjang deh. Aku hanya mau punya suami seperti dia. Aku berharap lelaki seperti itu memang ada di dunia nyata.


Aku sangat menikmati karya dari Kak Wiwi. Sangat menghibur dan sarat makna. Bikin baper dan sanggup menciptakan dunia baru saat membacanya. Aku berharap ke depannya bisa membaca karya dari Kak Wiwi lagi. 

Monday, November 6, 2017

[REVIEW] Someday: Unexpected Love by Wiwi Suyanti

November 06, 2017 2 Comments
[BOOK INFO] 
Judul: Someday: Unexpected Love
Pengarang: Wiwi Suyanti
Penerbit: Kubus Media Group
Genre: Romance
Halaman:412
Periode baca: 1-4 Nov 2017
Ratings: 🌟🌟🌟🌟
[BLURB]
Samantha menjalani hidupnya bagai di negeri dongeng. Ia menikah dengan teman sekolahnya, William, dan hidup bahagia meski tidak dikaruniai anak. Dunianya serasa runtuh saat sang suami divonis mengidap penyakit mematikan, dan mengharuskan William untuk segera memperoleh keturunan sebelum terlambat. William tak mampu. Dan hanya ada satu cara untuk mewujudkannya.

Apa yang kamu minta dariku, adalah mustahil," bisik Samantha ketakutan. Samantha tidak menyangka William akan meminta pertolongan Ralf, kakak William. untuk membantunya memperoleh keturunan. Ralf, si Monster Yeti yang menyebalkan itu? Musuh bebuyutan Samantha? Apa William sudah kehilangan akal sehatnya.


[REVIEW]
Mari kita berkenalan dengan para tokoh yang akan mengaduk-aduk emosi pembaca.
 
Dimulai dari Samantha Andhara. Sam adalah sosok manusia yang berhati baik seperti malaikat. Sialnya, dia menikah dengan lelaki macam William Subrata.

Aku nggak bilang William ini lelaki yang nggak baik, hanya saja kalau dibandingkan dengan istrinya, dia tentu lebih layak mendekam di neraka selama-lamanya karena meminta Sam bercinta dengan Ralf, kakaknya, demi mendapatkan keturunan. Dan demi apa pun, memiliki keturunan untuk mempertahankan jaringan hotel yang dibangun susah payah oleh Liam, bukanlah alasan yang masuk akal terhadap permintaannya.

 
Namun, cinta (atau kebodohan yang tanpa logika) yang begitu besar Sam kepada Liam, dia malah memohon pada Ralf untuk mengabulkannya. Sam mengesampingkan rasa tidak sukanya pada Ralf hanya untuk menyanggupi permintaan Liam.




Bisa kutebak kalau Ralf juga berpikir Liam sinting! Lelaki berpenampilan urakan itu ternyata sanggup membuatku jatuh cinta di halaman 78. Ralf meninggalkan kesan berbeda seperti yang ingin ditinggalkan Sam untukku, si pembaca. I love Ralf!

Sudah tahu, kan, permintaan Liam kepada istrinya yang kalian baca di blurb? Supaya dia 'tidur' dengan kakak kandungnya sendiri demi mendapatkan keturunan. Dasar Liam gila! Dia nggak tahu seberapa dalam luka yang ditorehkan di hati Sam demi mengabulkannya! Seperti yang Sam bilang, 

"Aku akan sangat membencimu setelah semua ini selesai. Tapi aku juga sangat mencintaimu. Jadi, ya, aku yakin." (hal 27)

Begitulah Sam menyanggupi permintaan Liam. Aku jadi pengen maki-maki, entah kepada siapa. Ke Liam yang hatinya tergantung di pohon beringin? Atau ke Sam yang otaknya disimpul mati oleh selaput 'cinta' pada Liam? Atau ke Ralf yang sudah bikin aku jatuh bangun dalam pesonanya?


Ya, Tuhan, Ralf! Aku mau lelaki seperti dia. Ha ha ha! *mulai halu*


Dengan berat hati, Sam menyanggupi permintaan Liam untuk 'berhubungan intim' dengan Ralf. Dia mengantisipasi semuanya, bahkan dia membuat batasan-batasan. Namun, tanpa dia tahu, batasan-batasan itu menyakiti dirinya sendiri. Lebih lagi, itu membuat Ralf tidak tega melanjutkan perbuatan 'kasar'nya.
 
Dari sanalah, dari kelembutan kedalaman hati Ralflah, yang tidak diantisipasi oleh Sam. Dia membiarkan dirinya jatuh dalam rasa yang begitu dalam pada Ralf. Perasaan yang benar sekaligus sangat salah.

 
Dari hanya sekedar 'berhubungan intim' demi mendapatkan keturunan bagi Liam, dalam selang beberapa menit, mereka sepakat menyebutnya 'bercinta' karena memang sungguh ada perasaan yang melingkupi keduanya
.
 
Kecewa dan luka dalam yang ditorehkan Liam ternyata bisa disembuhkan dengan sisi tak terduga Ralf.



Wah, hubungan mereka memang membingungkan. Tapi, aku tidak menyalahkan Sam atau Ralf karena semuanya adalah salah Liam. Kerumitan ini terjadi karena permintaan tolol Liam yang terobsesi dengan perusahaan hotelnya. Dalam hati, aku sungguh berharap penyakit Liam memburuk lalu dia membuka jalan untuk Sam dan Ralf bersama yang ditandai oleh perginya Liam ke rumah Bapa di surga (atau neraka, yang mana aja, asal nggak ganggu hubungan Ralf dan Sam 😅).

[QUOTES]
Ini adalah bagian yang tidak selalu ada di setiap posting review di blog-ku. Tapi, kali ini spesial, saking banyaknya quotes yang mengaduk-aduk perasaan. Dari yang bikin melayang sampai pengen nampar.

Liam
"Sudah kubilang, kamu bukan sekedar kompetisi. Kamu adalah yang terakhir." (hal 23)

Samantha
"Lagipula untuk apa ia mempercantik diri? Memangnya siapa yang ingin dia goda? Ralf Subrata?Lebih baik dia menggoda onta atau kambing daripada laki-laki itu. (hal 90)

"Namun sekarang setelah Sam tahu bagaimana pria urakan itu sesungguhnya berhati emas, ia tidak bisa lagi mencegah perasaannya untuk luluh." (hal 213)

"Karena tak ada yang lebih menyakitkan selain saat kamu menyadari, bahwa kamu jatuh cinta dengan orang yang tidak boleh kamu cintai." (hal 257)

"Terkadang air mata yang tidak tampak, adalah air mata yang paling menyakitkan." (hal 279)

"Tapi pertanyaannya adalah, kalau kamu benar-benar kehilangan hotel itu dan terpaksa hidup susah denganku, apakah kamu sanggup? Apa seorang istri yang mendampingimu sampai mati, akan cukup untukmu?" (hal 350)

"Setidaknya hidup ini memberi aku kesempatan untuk mengenal kamu, untuk tahu betapa beruntungnya aku, pernah dicintai oleh hati seperti hatimu." (hal 402)  

Ralf
"Jadi bagaimana aku harus menghamilimu? Dengan ilmu telepati? Meminta agar spermaku terbang ke udara dan masuk ke tubuhmu?" (hal 97)

"Meski anak itu akan menjadi anak Liam, aku akan tetap menjaga kalian. Tidak peduli sekali pun kamu tidak tahu." (hal 178)

 "Ralf yang merasa dirinya sosok manly yang terlaki, terjantan, dan termaskulin sejagat raya, kini mendapatkan dirinya tenggelam oleh aktivitas menautkan bibir bersama perempuan. Rasa-rasanya ia bisa mencium Sam selama yang ia mau, tak peduli sekalipun napas mereka menjadi habis. (hal 218)

"Jangan menangis lagi, Minyak Telon. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Semua ini bukan sekedar percintaan kilat yang aku lakukan karena nafsu. Aku bercinta denganmu karena aku mencintaimu, karena aku membutuhkanmu dan aku akan hancur jika melihatmu menangis." (hal 258)

"Karena kamu bukan pelampiasan nafsu. Aku berhenti kalau kamu minta aku berhenti." (hal 315)

[CLOSING]
Buku ini sangat addictive sekali. Pertama kali baca langsung susah dilepas dan tanpa terasa 412 halaman berlalu begitu saja. Penuturannya mengalir. Untuk konflik, aku rasa ini cukup unik. Mana ada lelaki yang punya istri sempurna, menyodorkannya untuk disetubuhi oleh kakaknya demi mendapatkan keturunan. Itu saja udah sinting tingkat tinggi, tapi itulah daya tarik cerita ini.

Buku ini bisa dibaca oleh teman-teman yang sudah cukup umur karena terdapat adegan yang cukup intim. Terutama bakalan berkali-kali shock kalau membaca ujaran Ralf yang terlalu gamblang. Walaupun aku sudah termasuk usia matang, tetapi membacanya aja bikin jengah. Nggak kebayang kalau ada lelaki yang ngomong hal itu secara langsung padaku. Mati berdiri, mungkin saking malunya.

Untuk masalah menagaduk-aduk perasaannya, ceita ini sukses bikin aku kayak naik rollercoaster. Di satu bagian, aku bisa tertawa geli, di bagian berikutnya aku baper. Untungnya, meskipun sedih, aku berhasil tidak menangis saat membacanya. Bisa jadi ini ditunjang sama karakter-karakter yang berhati lembut tetapi mencoba untuk pasrah dan kuat.

Terakhir, aku ingin berterima kasih pada sepupuku yang telah memberikan buku ini (beserta buku lanjutannya dan satu buku lain) sebagai hadiah ulang tahunku. Terima kasih karena telah mengurangi beban dompet demi memuaskan wishlist-ku.

Thursday, November 2, 2017

[REVIEW] Forgotten Love by Arleen A.

November 02, 2017 0 Comments
[BOOK INFO] 
Judul: Forgotten Love
Pengarang: Arleen Amidjaja
Penerbit: Andi
Genre: Chicklit
Halaman: 140
Periode baca: 31 Okt - 2 Nov 2017
Ratings: 🌟🌟🌟

[BLURB]
Bagaimana kalau ada dua pria yang tiba-tiba datang dalam hidupmu dan mengaku sebagai pacar dimasa lalumu? Padahal kamu tidak kenal siapa mereka? Inilah yang dialami Lisa.

Sejak amnesia, Lisa lupa segala-galanya. Dia lupa namanya sendiri, dia lupa pekerjaannya, bahkan dia juga lupa dia itu punya pacar atau nggak. Sampai datang Dave, yang mengaku pacarnya. Tapi bukan hanya Dave seorang yang mengaku sebagai pacar Lisa, Josh juga.

Bingung campur kaget. Setelah Lisa mulai mengingat satu per satu, ia tidak menyangka masa lalunya begitu mencengangkan. Bahkan ia bisa terlibat dalam skandal keluarga Bowie, konglomerat pemilik beragam perusahaan diCalifornia.

Kisah ini kisah cinta dua akan manusia yang dimulai didekat istana pasir. Kisah cinta yang semestinya berakhir dengan they live happily ever after. Tapi hidup memang nggak pernah sesederhana itu. Dan cinta sejati memang selalu penuh perjuangan.


[REVIEW]
Just one quick comment for opening: I wish the story were longer and deeper! Aku benar-benar ingin masuk ke dalam kehidupan para tokoh. Alurnya menarik, ide ceritanya menarik, konfliknya pun sederhana tapi rumit (nah, loh gimana coba?!)

Buku ini memang diterbitkan tahun 2008, tebalnya pun hanya 140 halaman. Tapi ceritanya WOW! Nggak cukup kalau hanya 140 halaman aja!

Alurnya bergerak cukup cepat dan aku membacanya enam per tujuh bagian buku dalam sekali duduk, dalam satu jam (kurang lebih).

Kalaupun ada saran, aku hanya lebih ingin pembahasaannya lebih konsisten. Ada beberapa kata dalam narasi yang menggunakan bahasa Inggris, yang seharusnya bisa ditulis dalam bahasa Indonesia saja, sekalipun latar memang di luar negeri. Penggambaran detail-detail tempat dan sekitar, menurutku juga kurang detail, sehingga aku menghayal-khayal aja kira-kira gimana tempatnya. Bisa jadi khayalanku ngaco.
  
Aku suka konfliknya. Dan ya itu, sayang sekali tidak dieksekusi dengan maksimal tentang perdebatan yang terjadi dalam diri masing-masing tokoh. Di beberapa titik, jadi terkesan tokoh berubah pikiran dengan sangat cepat. Mungkin akunya aja sih tipe pembaca yang suka ditarik ulur.

[CLOSING]
Aku berterima kasih pada Kak Arleen, sang penulis, yang telah memberikan aku kesempatan untuk menjadi salah satu karyanya. Aku yakin, tulisan Kak Arleen yang terbaru pasti jauh-jauh-jauh lebih bagus dari ini!

Sukses terus, Kak Arleen! 

Wednesday, November 1, 2017

[ASK THE AUTHOR] The Way I Used to Be by Amber Smith

November 01, 2017 0 Comments
[BOOK INFO]
Judul: The Way I Used To Be 
Pengarang: Amber Smith
Penerbit: Spring
Genre: Umum
Tebal: 392 halaman
Periode baca: 19 - 22 Oktober 2017
Ratings: 🌟🌟🌟🌟

[HALO!]
Masih jadi salah satu bagian dari rangkaian Blog Tour buku terbitan Penerbit Spring yang berjudul The Way I Used To Be, aku hadir kembali dengan tanya jawab dengan sang penulis, Amber Smith.

Seru banget ya, bisa dapat kesempatan mengenal seorang penulis dan proses kreatif di dalamnya. Simak yuk!

[INTERVIEW]


1. Di mana tempat favorit Anda untuk menulis? 
·         Is there any favourite place to write? Where and why
I have a writing room in my house where I do most of my work—it’s my creative sanctuary—I don’t do anything in this room except write. But sometimes I like to switch things up and go to one of my favorite cafés and write. It sort of depends on what kind of scenes I’m working on, or whether I’m drafting or revising. Sometimes I find that I need to have total silence to be focused, and other times it’s more helpful to be out and around people, surrounded by the background noise of the café. 
Aku punya ruangan untuk menulis di rumahku, tempat aku mengerjakan banyak hal, sebuah altar kreatifku. Aku tidak melakukan hal lain di sini kecuali menulis. Tapi, kadang aku suka mengganti sesuatu dan pergi ke kafe favorit untuk menulis. Sebenarnya, tergantung dari adegan apa yang sedang kutulis, atau apakah aku sedang menulis kerangka, atau merevisi. Kadang, aku membutuhkan keheningan total untuk berfokus, dan kadang lebih membantu kalau aku berada di luar, dikelilingi orang-orang, dan suara gaduh kafe.

2. Pesan apa yang ingin disampaikan kepada para pembaca saat mereka membaca buku ini?
·         What kind of message you want to tell with Eden’s story?
I think the overarching message I’d like to see readers come away with has to do with self-worth: the importance of finding your voice and speaking your truth, standing up to abuse in all its forms, even the abuse we sometimes inflict on ourselves.
Kurasa, pesan terbesar yang aku ingin pembaca mengerti berhubungan dengan bagaimana menghargai diri sendiri: pentingnya untuk menemukan suaramu dan bicara tentang kebenaran, berdiri melawan perundungan dalam berbagai bentuk, bahkan perundungan yang kita ciptakan untuk diri kita sendiri.

3. Apakah pernah mengalami writer's block pada saat penulisan novel ini? 
·         Did you experience writer’s block when you writing The Way I Used to Be? What did you do to overcome this?
I’m not sure if it was writer’s block, or if some parts were just more emotionally difficult to write. But one of the things I try to do is make sure I have a couple of different things I’m working on at once, so that if I get stuck on one book, I can jump over to work on something else for a little while, and most often the original problem I was having, tends to resolve itself when I’m not so focused on it.
Aku tidak yakin apakah ini writer’s block, atau hanya beberapa adegan yang memang sangat sulit untuk kutulis secara emosional. Tapi, aku selalu memastikan aku punya beberapa hal yang kulakukan secara bersamaan. Jadi, kalau aku terjebak di satu buku, aku bisa mengerjakan sesuatu yang lain untuk beberapa saat, dan seringnya, masalah yang kuhadapi bisa memecahkan masalahnya sendiri saat aku tidak terlalu berfokus pada masalah itu.

4. Buku bergenre apa yang paling sering dibaca? Dan apakah buku-buku itu menginspirasi penulisan buku ini?
·         What are you favourite genre of books? Did that book influence your writing on The Way I Used to Be?
I’ve always love coming of age stories and books that show characters not only dealing with real-life problems, but working to overcome them. These are the kinds of stories I loved reading as a teenager because they made me feel like it was okay if I had flaws or didn’t always know the best thing to do. Those books let me know I wasn’t so alone in my own struggles.
Aku selalu suka buku tentang coming-age, dan buku yang menunjukkan bahwa karakter tokoh tidak hanya sedang menghadapi masalah, tapi bekerja penuh untuk mengatasinya. Cerita seperti inilah yang sejak remaja kusukai karena mereka membuatku merasa tidak apa-apa untuk memiliki kekurangan, dan tidak apa-apa untuk tidak tahu semua yang terbaik untuk dilakukan. Buku-buku itu memberitahuku bahwa aku tidak terlalu sendirian dengan masalahku.
 
[CLOSING]
Buat teman-teman yang belum punya buku The Way I Used To Be karya Amber Smith, bisa langsung ke toko buku kesayangan untuk mendapatkan buku ini. Mari berbagi pendapat kamu tentang buku ini. Bisa mention aku di IG, ya, supaya aku bisa baca punya kalian juga. Ditunggu postingan kalian!

Sekali lagi, aku ucapkan terima kasih kepada Penerbit Spring yang sudah memberikan kesempatan seperti ini buatku. Semoga ke depannya, aku bisa bekerja sama lagi.

Sukses selalu, Penerbit Spring!